Dubes Malaysia Berkunjung, Soal TKW Urusan Belakangan
Duta besar dari Malaysia H.E. Mr Dato ‘Syed Munshe Afdzaruddin berkunjung menemui Taufik Kiemas, Ketua Umum MPR RI di ruang kerja Ketua MPR RI, Rabu (10/2), lalu. Dalam kunjungannya, H.E. Mr Dato ‘Syed Munshe Afdzaruddin bersama Mr. Amran Mohammad Sin (Wadubes Malaysia), Mr. Borkan Abu Samah (utusan Malaysia) dan Mr En Ahmad Suardi (staf kedubes Malasyia), membicarakan masalah hubungan antara Indonesia-Malaysia.
Taufik Kiemas, yang akrab disapa TK ini, mengatakan bahwa hubungan yang ada selama ini sudah erat, baik dari antarpemerintah maupun ekonomi, tetapi yang masih kurang, yaitu hubungan antarparlemen. Padahal, menurut TK, parlemenlah yang mengetahui roh dan jiwa rakyat suatu negara. Mengenai aksi sweeping, TK berpendapat agar dari pihak Malaysia tidak timbul prasangka buruk sehingga mengakibatkan ketidakharmonisan hubungan antartetangga.
Menanggapi hal itu, Dubes Malaysia menjawab kabar sweeping tentu akan berbeda dari kedua belah pihak, yakni Malaysia dan Indonesia, “Jadi kita harus melihatnya secara objektif dan keseluruhan.” Dubes Malasyia juga memastikan takkan timbul prasangka-prasangka dari pihak Malaysia. Mereka justru ingin memperkuat hubungan kerja sama, diantaranya kerja sama bidang ekonomi, perikanan, tetapi dengan tetap memperhatikan demarkasi yang ada.
Sementara itu, Helmy, anggota komisi I, mengangkat masalah tenaga kerja sebagai suatu persoalan yang cukup penting. Ia mengatakan bahwa kita harus lebih peduli terhadap tenaga kerja yang ada saat ini. Karena itu, dibuatlah Citizen Center di Singapura sebagai tempat untuk menyeselesaikan segala masalah ketenagakerjaan. Dan diharapkan, pihak Malaysia ikut membantu proses pembentukan Citizen Center ini. “Citizen Center ini diibaratkan sebagai suatu atap yang mewadahi tenaga kerja,” ujar Helmy.
Namun, dari perbincangan yang cukup lama, tidak ada yang membahas masalah kekerasan terhadap TKW di Malasyia. Sewaktu ditanya soal kekerasan terhadap TKW, salah satu staf ahli TK menjawab bahwa permasalahan hukum mengenai hal itu bukanlah prioritas utama, “Masih ada sektor-sektor lain yang perlu ditingkatkan untuk memperbaiki tingkat ekonomi di Indonesia,” ujarnya.
hackim
Currently have 0 komentar: